Enam narasumber utama yang mesti menjadi prioritas utama pelacakan, yaitu:
Pertama, orang dalam yang bernyanyi (whistleblower) alias pembisik. Si whistleblower adalah karyawan, mantan karyawan, atau anggota dari sebuah organisasi yang melaporkan tindakan melanggar hukum yang terjadi di dalam lembaga atau organisasinya.
Kedua, yaitu para musuh (enemies) untuk mendapat informasi. Seorang musuh kerap kali menjadi sumber terbaik. Apalagi bila si reporter mencoba menelusuri semua kelakuan buruk target penyelidikan. Tak jarang para musuh ini dengan senang hati menunjukkan ke siapa-siapa saja pertanyaan penyelidikan itu seharusnya diajukan. Karena itu dalam banyak kasus, mereka menjadi akrab dengan si reporter.
Ketiga, teman-teman target penyelidikan (friends). Dalam upaya melindungi citra sahabatnya, tak jarang mereka malah membuka info baru ke si reporter, baik itu berupa nama maupun detil situasi sulit yang dihadapi sahabatnya. Informasi ini dapat membuat pengetahuan dan wawasan si reporter jadi bertambah ketimbang sebelumnya.
Keempat, mereka yang kalah (losers). Untuk melacak keberadaan para musuh, lihatlah hasil pemilu terakhir, perusahan-perusahaan yang kalah dalam sebuah tender proyek, atau pesaing yang kalah dalam pemilihan jabatan direktur. Semakin buruk mereka kalah, semakin banyak info yang bisa digali.
Kelima, para korban (victims). ereka dapat memberi contoh-contoh kongkrit penyelewengan secara khusus, termasuk juga memberi ilustrasi lelucon pahit dari penderitaannya. Sejarah kehidupan nyata mereka dapat menolong si reporter dalam menulis cerita.
Keenam, para ahli (experts). Dalam tahap penyelidikan awal, terkadang banyak reporter tak mengerti banyak istilah teknis dalam suatu dokumen. Atau, konteks masalah dari dokumen yang mereka dapat. Karena itu si reporter terkadang membutuhkan seorang ahli untuk menjelaskan.
Catatan Penulis
Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa tugas dari seorang jurnalis investigasi adalah mencari dan mengungkapkan fakta baru yang belum diketahui oleh masyarakat luas.
Proses jurnalisme investigasi itu bersifat sebagai berikut:
- Riset dan reportase jangka panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis.
- Paper trail (pencarian jejak dokumen) berupa upaya untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis.
- Wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang terkait, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi.
- Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas.
- Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan.
Contoh Jurnalisme Investigasi yang salah:
Apabila ada yang bertanya mengenai infotainment "Insert Investigasi", hal ini tidak dapat dikatakan sebagai investigasi dalam jurnalisme investigasi. Melainkan, hanyalah sebuah gosip dan dianggap telah melanggar batas-batas pribadi.
Kasus perampokan bank CIMB Niaga, dimana sudah diketahui bahwa perampokan itu terorganisir dan senjata yang digunakan adalah jenis AK-47 dan AK-16. Dimana, penangkapan perampok bank CIMB Niaga adalah tim Densus 88. Hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, dan hal inilah yang harus dijawab oleh jurnalis investigasi dan untuk kemudian diberitahukan kepada publik.
Author : Angeline